T I T I K N O L
Hidup itu adalah sebilah cermin. Dunia di matamu sesungguhnya adalah cermin dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang sendiri. Jika dunia penuh dengan kebencian dan musuh dimana-mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kau kira dunia penuh dengan orang egois, itu tak lain adalah banyangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia hanya muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia dimatamu selalu tersenyum ramah, berterimakasihlah pada hatimu yang diliputi cinta. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada perbuatan pasti ada balasan. Semua itu simetris. Orang bilang kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru terlihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak. Dimataku, hal yang membedakan kualitas perjalanan adalah 'apakah digunakan hati?' ada orang yang pergi ke ratusan negara, sampai sudah tak ingat lagi dimana-mana saja yang pernah di datangi, selain bukti foto-foto dan cap paspor yang menjadi piala kebanggaan. Ada orang yang berjalan mendalami negeri negeri, menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, dan mencatat setiap cerita."kau bilang perjalanan hanyalah bagi sang pemberani. Kau bilang perjalanan keliling dunia itu eksklusif bagi para lelaki gempal jagoan yang kuat melibatkan semua musuh. Namun bagiku, ujian pertama dalam perjalanan adalah pembuktian kesabaran. Ketakukan selalu menemani hidup. Kau dan aku tak akan bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud ketakukan selalu menghantui manusia, sahabat setia dari gua gurba hingga Liang lahat. Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan? Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa ketakutan.
Komentar
Posting Komentar