Si aku yang bodoh

 Teruntuk aku

Kadang...... 

Pernah terlintas belajar untuk melepaskan.. 

Meski hati menolak untuk berpisah

Aku sudah terlalu dalam 

Sampai perih pun ku  anggap manis

Entah ini memang kamu betul benar benar cinta

Atau hanya akau  yang sebetulnya berharap dicintai

Lalu menatap lampu yang berkeretap

Saling memantulkan cahayanya

Sambil sesekali aku berbisik dengan diriku sendiri

Kenapa aku di sini

Kenapa aku begitu nyaman dengan rumah yang belum ku kenal pasti dengan situan rumah itu

Apakah aku di izinkan masuk? 

Atau hanya di teras saja? 

Lalu di suguhkan kopi pahit dengan terlalu banyak gula

Sehingga membuatku mabuk kemanisan yang sebenarnya

Hanya kepahitan yang tersamarkan oleh gula

Aku suka kopi yang apa adanya

Lebih lebih si pembuatnya menceritakan langsung bagaimana prosesnya

Ya..... Langsung

Tanpa basa basi yang akhirnya benar benar basi

Aku masih duduk sendiri di ujung bukit  kota.. 

Kalau aku maju sedikit lagi mungkin aku akan  lenyap

Mungkin aku akan lenyap dari pandangan bumi

Aku hancur

Dan berharap kamu memelukku dari belakang 

Tolong genggam lagi tanganku 

Pastikan menggenggam dengan rasa 

Bukan dengan iba

Terserah kamu menganggap aku apa si aku yang bodoh ini

Kepandaian nalarku sudah hilang ketika mengenalmu

Aku pandai menafsirkan definisi definisi sulit yang mungkin tidak semua orang bisa paham itu

Si aku yang pandai itu sudah mati 

Buihnya menyiksakan luka 

Arangnya meninggalkan debu

Terbang ke langit berganti dengan aku si bodoh

Hhhhhhh.. Ada ada ya rasa ini 

Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai rasa

Tapi aku tidak mengerti manusia macam apa kamu ini

Aku sudah berjuang 

Kamu patahkan begitu saja

Untuk apa memberi peluang

Kalau kamu masih mengulang apa yang kamu dan rumahmu lakukan di masa lalu

Lalu ketika temenmu serumah itu pergi

Kamu merangkak datang kepadaku membawa hati yang kosong itu

Aku pikir aku siap mengisinya 

Aku pikir kamu akan membiarkanku menggantikan ruang tersebut 

Lagi lagi sibodoh aku ini terlalu banyak berkhayal

Sikamu yang datang tapi tidak memintaku untuk menetap

Ternyata dia mencari pembantu untuk rumahnya yang kosong itu

Tidak apa apa

Dan aku masih baik baik saja 

Setidaknya aku masih bisa menatap wajahnya setiap hari

Merapikan tempat tidurnya

Memberinya sarapan

Menyiapkan baju baik menurutnya

Agar dia dapat menemukan penghuni rumahnya lagi

Aku ingin melihatnya bahagia

Meski definisi bahagia menurut dia itu bukan aku

Bukan aku si bodoh ini 

Aku hanya bayang bayang yang terjebak di tafsiran kata

Lalu aku akan pergi jauhhh... 

Tidak tau mu kemana

Mungki diatas bukit kota ini aku akan berakhir 

Selamat tinggal rumah

Selamat tinggal kopi yang pahit 


Demak 02 Januari 2020


Muhammad rizik



Komentar

Postingan Populer