DASAR KEILMUAN DAKWAH DITINJAU DARI ASPEK AKSIOLOGI DALAM FILSAFAT
PEMBAHASAN
1. Pengertian Aksiologi dan Ilmu Dakwah
Aksiologi berasal dari bahasa yunani, axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu. Aksiologi menurut yang dijelaskan oleh Suisyanto adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai dari sudut pandang filsafat.[1] Menurut Jujun S. Suriasumantri, aksiologi adalah teori nilai yang berhubungan dengan kegunaan ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut Louis O. Kattsoff yang dikutip oleh Zaprulkhan, aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang hakikat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatannya.[2]
Aksiologi menurut Kamus Filsafat seperti yang dikutip oleh Hosnan dan Warits dalam karya tulisnya, terdapat tiga pengertian, antara lain[3]:
1. Aksiologi merupakan analisis nilai-nilai, yang berkaitan dengan ciri-ciri, asal, tipe, kriteria, dan status epistimologis dari nilai-nilai itu
2. Aksiologi merupakan studi yang menyangkut teori umum tentang nilai atau suatu studi yang berkaitan dengan semua hal yang bernilai.
3. Aksiologi dijelaskan sebagai studi filosofis tentang hakikat nilai-nilai. Nilai yang dimaksudkan tersebut merupakan suatu macam cara
Sesuatu dikatakan bernilai apabila ia memiliki unsur baik atau manfaat untuk kehidupan. Pendapat yang sejalan dikatakan oleh Wibisono, yaitu aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran (ilmiah), eti, dan moral sebagai dasar normatif dalam penelitian dan penggalian serta penerapan ilmu. Jadi, aksiologi adalah ilmu yang meneliti atau mempelajari tentang bagaimana suatu ilmu itu digunakan atau dimanfaatkan untuk kehidupan.
Menurut Kattsof, seperti yang dikutip oleh Suisyanto dalam bukunya yang berjudul Pengantar Filsafat Dakwah menejelaskan bagaimana mendekati nilai (pendekatan aksiologis) yang dibedakan menjadi tiga[4]:
a. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif, artinya nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan manusia sebagai pemberi nilai. Kaitannya dengan hal ini maka bergantung pada pengalaman, pengetahuan, kemampuan pemberi nilai.
b. Nilai-nilai merupakan pernyataan ontologis atau tidak terdapat dalam ruang dan waktu, artinya nilai merupakan esensi logis yang dapat diketahui melalui akal, yang dikenal dengan objektivitasme logis.
c. Nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan, artinya, nilai merupakan hasil dari pengenalan, penambahan, dan pembuktian dari suatu yang dinilai.
Pengertian Dakwah sendiri menurut Syekh Ali Mahfudz didalam tulisannya yang dikutip oleh Ichwansyah, adalah mengajak manusia kepada kebajikan dan petunjuk dan menyuruh kepada perbuatanbaik dan melarang berbuat kemungkaran agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.[5] Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni didalam tulisannya mengatakan bahwa dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan ajaran islam kepada manusia serta mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.[6]
Pengertian ilmu dakwah menurut Wardi Bachtiar yang dikutip oleh Rasyid Ridla dkk., ilmu dakwah adalah ilmu yang terdiri dari dari sejumlah pengetahuan tentang proses upaya mengajak manusia ke jalan Allah swt. atau ‘al-islam’ yang tersusun secara sistematis, logis, berupa pemikiran manusia, objektif, dan hasilnya dapat diuji oleh siapapun.[7] Sedangkan pengertian ilmu dakwah menurut Thoha Yahya Umar dalam bukunya yang berjudul Ilmu Dakwah yang dikutip pula oleh Rasyid Ridla dkk., mengatakan bahwa ilmu dakwah sebagai ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian menusia untuk menganut, menyetujui, melaksanakan suatu ideologi, pendapat, pekerjaan yang tertentu.[8] Jadi pengertian ilmu dakwah adalah ilmu pengetahuan yang mengajak manusia ke jalan Allah untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
A. Dasar Ilmu Dakwah dan Asas Dalam Islam
Dasar-dasar ilmu dakwah adalah:
1. Menjelaskan realita dakwah sebagai suatu kebenaran
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehngga jelaslah pada mereka bahwa al-Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.”(Q.S Fussilat:53)
2. Mendekatkan diri kepada Allah sebagai kebenaran
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ واللْاِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku.”(Q.S. Adz-Dzhariat:56)
3. Merealisasikan kesejahteraan untuk seluruh alam (Rahmatal Lil Alamin)
و
Artinya: “Dan tiadalah Kita mengutus kamu melainkkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”(Q.S Al-Anbiya :107)
Dakwah menyeru pada agama Allah (Islam) adalah jalan yang ditempuh oleh rasul Allah mulai dari Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW. Sebagai umat dari Rasul yang terakhir maka mengikuti jejak dakwah yang pernah dilakukan beliau merupakan suatu kewajiban, sebab Allah SWT berfirman:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Artinya
:
"Katakanlah (Muhammad), Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku
tidak termasuk orang-orang musyrik."
(QS. Yusuf 12: Ayat 108)
Asas dimana seharusnya dakwah Islam itu harus ditegakkan diatasnya adalah sebagaimana yang ditunjukkan al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, yang diringkas sebagai berikut :
1. Adanya ilmu yang mendasar bagaimana seseorang dapat berdakwah dengan baik. Allah SWT berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)
Ayat ini menunjukkan bahwa da’i harus intelek berwawasan luas, dan cakrawala pandangan hidup yang memadai, sebab tanpa bekal semacam itu bagaimana seorang da’i dapat memberikan bantahan, alasan, hujjah yang baik tentu ilmu yang dimiliki jauh melebihi dibanding orang yang dibantah.
2. Adanya keserasian antara perbuatan dan ucapan, memberi dakwah dengan ucapan sangat penting, tetapi tidak kalah pentingnya adalah mengaktualisasikan apa yang didakwahkan itu dalam kehidupan sehari-hari (amal ibadah), sehingga kehadiran seorang da'i tidak hanya dapat dipercayai dari lisannya tapi mampu menjadi teladan dan panutan yang baik. Allah pernah berfirman tentang Nabi Syu’aib AS, Ia (Nabi Syu’aib) berkata kepada kaumnya :
قَالَ يٰقَوْمِ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كُنْتُ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَرَزَقَنِيْ مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۗ وَمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ اُخَالِفَكُمْ اِلٰى مَاۤ اَنْهٰٮكُمْ عَنْهُ ۗ اِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْۤ اِلَّا بِاللّٰهِ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ
Artinya: "Dia (Syu'aib) berkata, Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali." (QS. Hud 11: Ayat 88)
3. Adanya keikhlasan dari hati juru dakwah. Allah telah memberikan kepada akhlaq dakwah tentang motifasi Nabi-Nabi-Nya dalam berdakwah. Nabi Allah berkata kepada kaumnya :
قُلْ لَّاۤ اَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا
Artinya: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan seruanku ini.” (Q.S. Al An’am : 90)
4. Memulai dakwah dari masalah mendasar, yaitu perbaikan aqidah.
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ . لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya : "Katakanlah (Muhammad),
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri
(muslim)."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 162-163)
5. Adanya kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan dalam dakwah dan tegar dalam menghadapi siapapun yang menolak seruannya, sebab jalan dakwah bukan jalan yang ditaburi oleh wangi-wangian bunga, namun lebih sering dipenuhi oleh hal-hal yang tidak disukai lagi membahayakan.
Menjadi da’i harus mempunyai kesabaran yang lebih dalam menghadapi berbagai tipe-tipe psikologi mad’u, dan harus sabar dalam menghadapi cobaan dan rintangan yang akan di temui selama berdakwah.
[1] Drs.Suisyanto, M.Pd., Pengantar Filsafat Dakwah,(Yogyakarta:Teras,2006),89
[2] Dr.Zaprulkhan, M.S.I. Filsafat Islam Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta:2014),222.
[3] Mohammad Hosnan dan Abdul Warits, Aksiologi dalam Dimensi Filsafat Islam, No.2 (2013):5.
[4] Drs.Suisyanto, M.Pd., Pengantar Filsafat Dakwah, (Yogyakarta:Teras,2006), 90.
[5] Ichwansyah Tampubolon, Struktur Ilmu Dakwah dalam Diskursus, (Padang: IAIN Padang Sidimpuan), 3.
[6] Ichwansyah Tampubolon, Struktur Ilmu…, (Padang: IAIN Padang Sidimpuan), 3.
[7] Rasyid Ridla dkk., Pengantar Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga,2017), 54.
[8] Rasyid Ridla dkk., Pengantar Ilmu…, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga,2017),54.
Komentar
Posting Komentar