PENGERTIAN FILSAFAT
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seiring perkembangan zaman yang
semakain pesat, telah mengiring manusia pada kehidupan yang kompleks, sekaligus
di hadapkan pada persoalan hidup yang juga kompleks. Terkait dengan persoalan
dakwah, dampaknya tidak ketinggalan pula telah masuk pada problematika yang
kompleks. juga dimana para dai di tuntut
untuk tidak hanya mampu, menyampaikan pesan-pesan ajaran agama ansicg,
tapi lebih dari itu pula para dai di
tuntut untuk menyumbangkan pemikiranya
dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup dan kehidupan yang di hadapi
masyaraka. Dalam konteks ini dai di tuntut untuk mampu berfikir keras dan radic
(menyeluruh sampai ke akar akarnya). Dalam konteks berfikir ini para dai harus
mampu menguasai ilmu filsafat dakwah agar dakwahnya bisa selain menyelamatkan
manusia dari kebodohan juga dapat membantu memecahkan persoalan kehidupan yang
membelit.
.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian tentang filsafat ?
2.
Apa pengertian tentang
dakwah?
3.
Bagaimana kesinambungan
diantara keduanya?
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1.
Untuk Mengetahui ilmu filsafat dalam dakwah
2.
Untuk Mengetahui Definisi Ahli Tentang filsafat dakwah
3.
Untuk Mengetahui Istilah Yang Semakna Tentang filsafat dan Dakwah.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN FILSAFAT ISLAM
1.
Arti Filsafat
Istilah filsafat dapat di tinjau dari dua segi yakni :
a.
Segi semantik :
Perkataan filsafat berasal dari
bahasa Arab Falsafah yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang berarti
philos = cinta, suka (loving), dan shophia = pengertahuan, hikmah (wisdom).
Jadi philosophia berarti cinta kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Masudnya,
setiap orang yang berfilsafatakan menjadi bijaksana orang yang cinta kepada
pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa arabnya failsuf.
b.
Segi praktis :
Dilihat dari pengertian
praktisnya, filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat
artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir filsafat berfilsafat adalah
berpikir secara mendalam dan sungguh sungguh, sebuah semboyan mengatakan bahwa
setiap manusia adalah filsuf. Semboyan ini benar juga, sebab semua manusi
berfikir, akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua
manusia berfikir adalah filsuf.
Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan
sungguh-sungguh dan mendalam tegasnya : filsafat adalah hasil akal seorang
manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya
dengan kata lain filsafat adlah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh
hakikat kebenaran segala sesuatu .[1]
2.
Beberapa Definisi
Karena luasnya ruang lingkup pembahasan filsafat, maka tidak mustahil
kalau banyak diantara para ahli filsafat memberikan definisinya secara berbeda
beda, diantaranya :
a.
Plato (427 SM – 347 SM )
seorang filsuf yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru aristoteles, mengatakan
: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang
berminat mencapai kebenaran yang asli).[2]
b.
Aristoteles (382 SM -322 SM)
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalam nya
terkandung ilmu metafisika logika retorika etika ekonomi politik dan estetika (filsafat
menyelidiki sebab dan asas segala benda ).
c.
AL-farabi (wafat 950 M) filsuf
muslim terbesar sebelum ibnu sina mengatakan filsafat adalah pengetahuan
tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.[3]
3.
Tujuan, Fungsi dan Manfaat
Filsafat
Menurut Harold H. titus filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam
semesta maknanya dan nilainya. apabila tujuan ilmu adalah kontrol dan tujuan seni
adalah kreativitas kesempuranaan bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi maka
tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Radhakrishnan dalam bukunya History
of philosophy menyebutkan : Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan
semangat ketika kita hidup, melainkan memimbimbingnya maju, fungsi filsafat
adalah kreatif menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah, dan
menuntun pada jalan yang baru.
Study filsafat harus membantu orang orang yang membangun keyakinan
keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung
kepercaan keagamaan seseorang asal saja kepercayaan tersebut tidak tergantung
kepada konsepsi yang pra ilmiah yang using, yang sempit dan yang dogmatis.
Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan ikatan pengabdian, perdamaian
kejujuran pembahasan dan tuhan[4].
4.
Filfasat dan Agama
Dalam buku Filfasat Agama
Karangan Dr.H. rosjidi di uraikan tentang perbedaan dengan agama sebab kedua
kata tersebut sering dipahami keliru:
Filfasat
1)
Filsafat berarti berfikir
jadi yang penting ialah berfikir.
2)
Menurut willem temple,
filfasat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami.
3)
C.S. lewis membedakan
enjoyment dan contemplation misalnya laki laki mencintai perempuan rasa cinta
disebut enjoyment,sedangkan rasa cintanya disebut contemplation yaitu pikiran
si pecinta tentang rasa cintanya itu.[5]
4)
Filsafat banyak berhubungan
dengan pikiran yang dingin dan tenang.
5)
Filsafat dapat di utamakan
seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya.
6)
Ahli filsafat ingin mencari
kelemahan dalam tiap tiap pendirian dan argument walaupun argumennya sendiri.
Agama
1)
Agama berarti mengabdi diri
,jadi yang penting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan aturan
agama itu.
2)
Agama menuntut pengetahuan
untuk beribadat yang teutama merupakan hubungan manusia dengan tuhan .
3)
Agama dapat dikiaskan dengan
enjoyment atau rasa cinta seseorang rasa pengabdian dedication atau cotenment.
4)
Agama banyak berhubungan
dengan hati.
5)
Filfasat penting dalam
mempelajari agama.
5.
Bedanya filsafat dengan
ilmu-ilmu yang lain
Filsafat menyelidiki ,membahas serta memikirkan seluruh alam kenyataan
dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sam lain jadi ia memandang satu
kesatuan yang belum di pecah-pecah serta pembahasaannya secara keselluruahan
sedang kan ilmu ilmu lain atau ilmu vak menyelidiki hanya sebagaian saja dari
alam maujud ini misalnya ilmu hayat mebicarakan tentang hewan tumbuh tumbuhan
dan manusia ilmu bumii membicarakan tentang kota sungai hasil bumi dan
sebagainya.[6]
6.
Pengertian Filsafat Islam
Menurut Mustofa Abdur Razik
pemakaian kata filfasat dikalangan umat islam adalah kata hikmah. Sehingga kata
hakim di tempatkan pada kata failusuf atau hokum Al- islam (hakim-hakim islam)
sama dengan falsifatul islam (failasuf-failasuf islam).
Al-Farabi
berkata : failasuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari
kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya mencari hikmah yaitu mema’rifati
allah yang mengandung pengertian mema’rifati kebaikan.
Ibnu sina mengatakan Hikmah adalah mencari kesempurnaan
diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala
hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemapuan manusia.
Dengan demikian hikmah, yang di identikkan dengan
filsafat adalah ilmu yang membahas tentang hakikat sesuatu, baik yang bersifat
praktis yakni pengetahuan yang harus di wujudkan dengan amal baik.[7]
B. PENGERTIAN
DAKWAH
Dakwah berasal dari bahasa Arab دَعَ – يَدْعُ – دَعْوَة yang Artinya Memanggil,
mengundang, mengajak, menyeru.
a.
Arti Dakwah Islam terbatas adalah penyampaian
islam kepada manusia baik secara lisan maupun tulisan ataupun secara manusiawi
(panggilan,seruan, ajakan kepada manusia pada islam).
b.
Arti Dakwah dalam arti luas
adalah penjabaran, penerjemahan serta pelaksanaan islam dalam perilaku
kehidupan dan penghidupan manusia (termasuk politik ,ekonomi, sosial,
pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan dan lain sebagainya).
Dakwah dalam arti luas adalah seluas kehidupan dan penghidupan itu sendiri.
c.
Menurut Syech
Ali Mahfudh, dakwah ialah :
حث
النا س عل الخير والهذي والا مر با المعروف والنهي عن المنكر ليفى ) زوا بسعا دة
العا جل والا جل
(Syekh
Ali Mahfudh, 1952: 17)
Artinya : Mendorong manusia
agar berbuat kebajikan dan petunjuk, menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan
melarang mereka berbuat yang mungkar, agar mereka mendapatkan kebahagian dunia
akhirat.[8]
d.
M. Isa Anshary (1984:17) Memberikan Definisi bahwa
Dakwah Islamiyah Artinya Menyampaikan seruan islam, mengajak dan memanggil umat
manusia agar menerima dan mempercayai keyakinan dan pandangan hidup islam.[9]
e.
M. Amin Rais
(1991:25) Berpendapat bahwa Dakwah adalah setiap usaha rekontruksi masyarakat
yang masih mengundang unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang islami.[10]
Dari pengertian dan definisi dakwah
tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa dakwah mempuanya dua pengertaian
dasar yaitu : pertama, bermakna sempit (lughawy) yang hanya terbatas pada
seruan dan ajakan pada yang baik (khoir) yang bentuknya secra umum dengan bi
al-lisan, yaitu ceramah/ pidato dan juga bisa bi al-kitabah (tulisan). kedua,
bermakna luas (istilah) yang tiadak
terbatas pada anjuran dan ajakan melalui lisan saja, akan tetappi juga
perbuatan nyata ( da’wah bi al-hal) yang bentuknya bisa berupa pendidikan,
ekonomi sosial dan politik ,serta lainnya.
Dakwah yang berpangkal dari pengertian
sempit ini (bi al-lisan) lebih menunjukkan kepada cara-cara dalam pengutaraan
dan penyampaian dakwah yang lebih berorientasi pada ceramah agama, yang pada
saat sekarang ini berkembang menjadi disiplin retorika. kemudian dakwah bi
al-lisan (retorika), operasionalnya berkembang menjadi dakwah bi al-kitabah, yaitu dengan tulisan seperti di buku,
tulisan-tulisan di surat kabar, majalah, dan lain-lain.
Selanjutnya, Dakwah Bi Al-Hal, yaitu
Dakwah yang mengarah kepada upaya mempengaruhi dan mengajak orang-orang atau
kelompok manusia (masyarakat), dengan keteladanan dan amal perbuatan,
perkembangannya menjadi populer dengan nama dakwah pembangunan.
Menurut bentuknya ada beberapa macam, sebagai berikut :
1)
Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Mengajak kepada
hal kebaikan dan menolak kepada hal keburukan.
2) An-Nasihah
Memberi petujuk yang baik, yaitu tuturkata yang baik
dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Nasihat yang dimaksud adalah usaha
memperbaiki tingkah laku seorang/kelompok (masyarakat).
3)
Mau’idzah
Member nasihat, atau memberi pelajaran yang baik
kepada orang lain. Kata mau’idzah biasannya di kaitkan mau’idzah hasanah
(nasihat yang baik).
4)
Al-Irsyad
Suatu upaya untuk mendorong manusia agar mau mengikuti
petunjuk dengan menyampaikan kebenaran islam, sekaligus larangan-larangan
sehingga menimbulkan perbuatan manusia untuk mengikuti islam.
5)
Ad-Diayah
Upaya untuk mempropagandakan agama islam sehingga
mereka mengikuti ajaran islam. Ad-Diayah juga dapat diartikan sebagai suatu
usaha untuk menarik perhatian dan simpati seseorang baik secara individu maupun
kelompok terhadap suatu sikap, tindakan atau pemikiran dengan mengunakan
bujukan, pujian dan sejenisnya.
6)
Tabsyir dan Tandzir
Tabsyir adalah
memberikan uraian keagamaan kepada orang lain yang isinya berupa berita-berita
yang menggembirakan orang orang yang menerimanya. Sedangkan tandzir adalah
menyampaikan uraian keagamaan kepada orang-orang yang melanggar syariat Allah
SWT.
7)
Tadzikirah dan Indzar
Tadzikirah
artinya peringatan. Indzar adalah memberi peringatan atau ancaman, meningkatkan
manusia agar selalu menjauhkan perbuatan yang menyesatkan dan agar selalu
mengigat kepada Allah SWT dan mengikuti petunjuknya.
8)
Tarbiyah dan Ta’lim
Tarbiyah
adalah pendidikan. Pendidikan adalah bentuk tranformasi nilai-nilai, ilmu
pengetahuan atau kketerampilan yang membentuk wawasan, sikap dan tingkah laku
masyarakat. Sedangkan ta’lim pengajaran tentang suatu ilmu.
C.
HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DENGAN DAKWAH
Membahas
mengenai hubungan antara filsafat dengan dakwah, maka bisa dikatakan bahwa ini
sangat berhubungan, karena seperti yang kita ketahui bahwa filsafat adalah
induk dari semua ilmu, sehingga filsafat dan dakwah sangat berhubungan, dan
untuk lebih lengkap dibagi menjadi 3 yaitu :
1.
Filsafat Sebagai
Pembantu Dakwah
Bagaimanakah hubungan antara filsafat dengan dakwah?
Filsafat seringkali di gunakan oeh para juru dakwah sebagai alat untuk membela
keyakinan agama sendiri. Istilah yang tepat untuk aktivitas membela keyakinan
keagamaan secara filosofis, meminjam istilah john hick adalah “apoologetika”. Dalam
artian ini filsafat dakwah adalah bagian dari teologi.
Dalam kerangka apologrtika juru dakwah menggunakan filsafat
untuk kepentingan teologis. karena teologi menuntut loyalitas dan komitmen
penganutnya untuk meyakini kebenaran ajaran- ajaran agamanya dan membela secara
rasional keyakinan keyakinan dari serangan pihak luar serta berusa untuk
menyebar luasannya. Disini Da’i bertindak sebagai “actor“ yang menghayati dan
terlibat dan keyakinan keagamaannya dan filsafat bagian dari dakwah. Filsafat
berfugsi sebagai pembantu dakwah (philosophy as the hand-maid of dakwah). Juru
dakwah menggunakan refleksi falsafati untuk menunjukkan rasionalitas agama dan
kepercayaan kepada tuhan.
2.
Filsafat Sebagai Study Analitik atas Dakwah
Jika kita memandang hubungan filsafat dengan dakwah
dengan filsafat ilmu, filsafat seni, dan sebagainya, maka maknanya yang tepat
untuk menghubungkan filsafat dan dakwah adalah “Pemikiran filosofis tentang
dakwah” (philosophical thinking about
dakwah) atau kajian analitik atas dakwah (analytical of dakwah). Studi analitik bertujuan menganalisa dan
menjelaskan hakikat, kedudukan fungsi dan tujuan dakwah.
Berfikir fikir filosofis tentang dakwah tidak harus
berangkat dari sudut pandang agama,jika kita memandang filsafat bukan sebagi
bagian dari teologi, namun sebagai bagian cabang filsafat. Disini filsafat
berfungsi sebahhgai “pengamat” tentang dakwah.
3.
Filsafat Sebagai Refleksi atau Studi Dakwah
Filsafat adalah induk segala ilmu, secara Historis.
Pada awalnya filsafat dan ilmu tidak terpisah, setiap ilmu telah dibicarakan
dalam filsafat. Para filosif adalah peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan, namun
kemudian hari, satu persatu ilmu memisahkan diri dari filsafat, dengan kata
lain ilmu memisahkan diri dari induknya (filsafat) dan menjadi otonom.misalnya
: matematika, astronom fisika, kimia, biologi , psikologi dan sosiologi.
Ilmu terkadang menyisahkan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri atau berada di luar
jangkauannya (beyond is own ability).
Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat metafisis
karena menjadi tugas filsafat untuk menjawabnya. contoh sederhana adalah
“manusia” yang sama menjadi obyek kajian ilmu dan filsafat, biologi misalnya
dapat menjelaskan secara detail manusia sebagai makhluk hidup dari sisi unsur
dan keutuhan jasmaninya. Psikologi membahas manusia dari sisi jiwanya. Dan
sosiologi mengkaji manusia dari sisi kemasyarakatannya. Kesemua ilmu itu
membahas manusia secara persal, tapi tidak mengkaji manusia seacara
keseluruhan. jawaban siapa manusia seutuhnya adalah kerja filsafat.
Filsafat
menjawab pertanyaan - pertanyaan seperti siapakah manusia ? Apakah manusia ada
dengan sendirinya atau ada yang mengadakan? Setelah ilmu memisahkan diri
filsafat, peran filsafat adalah melakukan refleksi terhadap ilmu sehingga
menjadi filsafat ilmu, filsafat ilmu merupakan sebagaian dari epistimologi (filsafat
pengetahauan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahauan ilmiah)
filsafat ilmu menela’ah secara filsafati, beberapa aspek mengenai hakekat ilmu
yaitu aspek ontology epistomologi dan aksiolgi. Ketiga aspek itulah yang
membedakan jenis pengetahuan pengetahuan lainnya.
Ø
Pendapat Filsafat dakwah al-farabi
Al-faribi
mendefisikan filsafat dakwah adalah Al
Ilmu bilmaujudaat bima Hiya Al Maujudaat,[11]
yang berarti suatu ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala
yang ada ini. Al-faribi berhasil meletakkan dasar-dasar filsafat kedalam ajaran
islam, dia juga berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat plato
dan aristoteles, sebab kelihatan berlainan pemikirannya tetapi hakikatnya
mereka bersatu dalam tujuannya. Dari sini ia membagi lapangan filsafat menjadi
dua yaitu:
1.
Filsafat teori (al falsafah al nadariyah ), mengetahui
yang ada tanpa tuntutan untuk mewujutkannya dalam amal, lapangan ini meliputi
ilmu matematika (al ilmu al-riyadi), ilmu fisika (alilmu al thabhii)dan ilmu
metafisika(al ilmu ma ba’da al thabiiyat).
2.
Filsafat pratek (al falsafah al’ amliyah), mengetahui
sesuatu yang seharusnya diujudkan dengan amal, yang melahirkan tenaga untuk
melakukan bagian bagiannya yang baik amalan yang mengenai individu,disebut ilmu
akhlak, yaitu laku perbuatan baik yang seharusnya di kejakan oleh setiap
manusia. ilmu yang pengajarannya untuk selalu mengajak kebaikan dan mencegah
kemungkaran yaitu (ilmu dakwah).[12] Ilmu
yang mengenai masyarakat, disebut alfasalah almadaniayah (filsafat politik),
yaitu laku perbuatan baik yang seharusnya dikerjakan oleh anggota masyarakat
Ø
Filsafat Dakwah Menurut
Pendapat Sulisyanto
Menurut Pendapat Sulisyanto Menyatakan bahwa filsafat dakwah adalah subdisiplin
(cabang) dari filsafat islam yang secara khusus membahas tentang diskursus
dakwah dari sudut pandang filosofis islam, yakni membicarakan hakekat dakwah
dan tujuan dakwah, epistemoligi, dan aksiologi dakwah. Filsuf muslim umumnya
membahas tuhan, manusia, penciptaan alam, metafisika, logika dan etika.[13]
Untuk
membedakan filsafat dakwah dengan ilmu lainnya, maka perlu di rumuskan objek
formal filsafat dakwah. Menurut sambas (2009: 3), objek formal filsafat dakwah
adalah mempelajari bagaimana hakekat dakwah. Sedangkan sulisyanto (20016: 1)
mengatakan bahwa objek formal filsafat dakwah adalah usaha untuk mendapatkan
pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang proses penyampaian ajaran agama
islam. Berbeda dengan pendapat kedua tersebut, menurut basit (2012 : 227),
objek formal filsafat dakwah adalah membahas ontology, epistimologi dan
aksiologi dakwah.
Ø
Dasar pemikiran munculnya
filsafat dakwah
Terkait
dengan dasar pemikiran munculnya filsafat dakwah sulisyanto menjelaskan beberapa
hal diantaranya ;
a.
Al-qur’an menuntun manusia untuk berfilsafat.
b.
Al-qur’an mengajak manusia berdialog, baik dengan alam
maupun dengan dirinya sendiri.
c.
Al-qur’an menghargai penggunaan akal.[14]
Dilihat dari
subtensi dakwah. Jika dilihat dari sisi subtensinya, ilmu dakwah adalah
perpaduan antara aspek teori dan praktik dengan kata lain ilmu dakwah adalah
kesatuan padu antara keduanya yang dari kegiatan-kegiatan operasionalnya, dapat
dirumuskan teori-teori baru
Ilmu dakwah pada
satu sisi, dapat dibangun dari sumber al-qur’an dan hadist setelah kita
berfikir refleksi mendalam terhadap ayat-ayat al-qur’an dan hadits yang
berkaitan dengannya yang dalam kerangka filsafat dikenal dengan pendekatan
kritis, reflektif dan radikal.
Ø
Tujuan Mempelajari Filsafat
Dakwah
Menurut
pendapat abdul basit, tujuan mempelajari filsafat dakwah yaitu terbagi menjadi
dua bagian yakni tujuan secara umum dan secara khusus
Tujuan
mempelajari filsafat dakwah secara umum adalah membekali mahasiswa atau dai
berfikir secara kritis, analitis dan sistematis dalam mengembangkan kegiatan
dakwah dan dalam menghadapi berbagai macam persoalan keutamaan serta member
solusi aternatif dalam memecah persoalan tersebut.
Adapun
tujuan secara khusus dari mempelajari filsafat dakwah :
a)
Mahasiswa dapat memahami bahwa islam adalah agama
dakwah yang harusditransformasikan kepda eluruh umat manusia
b)
Mahasiswa atau dai mampu menjelaskan tentang dakwah
islam sebagai bagian dari sistem kehidupan manusia.
Ø Manfaat Filsafat Dalam Pengembangan Dakwah
Perbedaan manusia
dalam makhluk lainnya terletak dalam kemampuan berpikir yang di miliki oleh
manusia. Manusia dengan akalnya mampu memikirkan berbagai hal yang terkait
dengan ciptaan tuhan, dan bahkan mengenal tuhannya. Dengan akal juga, manusia
dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk
memaksimalkan fungsi akal yang ada pada diri manusia, maka di upayakan
pengembangannya melalui proses pembelajaran filsafat. Didalam keilmuan filsafat akan dijelaskan berbagai
metode dalam berfikir, sejarah pemikiran hakikat pemikiran dan manfaat
pemikiran, dalam hal ini, Dai di tuntut memiliki kemampuan dalam mengatasi
berbagai persoalann kemasyarakatan. Selanjutnya, dai juga di tuntut untuk
memiliki kontribusi dalam pengembangan keilmuan dakwah. Pada konteks ini, dai
perlu mengarahkannkemampuan berfikirnya untuk mengembangkan berbagai teori yang
di butuhkan dalam dakwah. Dalam merumuskan teori dakwah diperlukan filsafat
sebagai alat menganalisis dan mengkritis berbagai persoalan, konsep atau
gagasan yang melatar belakangi munculnya teori dakwah.
Dengan demikian
manfaat filsafat amat besar dalam proses pengembangan kemampuan da’i dalam
meningkatan aktifitas dakwah, pemecahah masalah masalah dakwah dan kemasyarakatan,
serta pengembangan keilmuan dakwah.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Dengan uraian di atas maka
dapatlah di simpulkan bahwa filsafat islam adalah sesuatu ilmu yang di celup
ajaran islam dalam membahas kebenaran segala sesuatu.
2.
Kesimpulan mengenai
pengertian dakwah diatas dalam proses penegakan amar ma’ruf nahi
munkar(mengajak yang baik dan mencegah yang munkar) perlu di perhatikan rambu
rambu yang diajarkan oleh islam yaitu dengan secara lemah lembut,memiliki dasar
keilmuan yang kuat, memerhatikan situasi dan
kondisi serta memerhatikan tujuan yang akn di capai.
3.
Dari kesimpulan mengenai
hubungan filsafat dakwah bahwa kegiatan dakwah merupakan fenomena sosial yang
dapat di teliti dan di analisis menjadi teori-teori dakwah, yang dapat di gunakan
dalam pengembangan filosofi keilmuan dakwah untuk mendukung ketercapaian tujuan
tersebut di perlukan landasan filsufi dan kerangka berfikir yang simetis dan
sesuai dengan prosdur ilmiah.
B. SARAN
Sebagai penyusun, penulis merasa masih ada kekurangan dalam pembuatan
makalah ini, oleh karena itu, penulis mohon kritik dan saran dari pembca. Agar
penulis dapat memperbaiki makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Subandi, A. Sambas, 1999, Epistemologi Dakwah, Kp. Hadis, Bandung.
Basit, A. 2012, Filsafat Dakwah, Pt. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Syukir, A. 1983, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam,
Al-Ikhlas, Surabaya.
Mustofa, 1997, Filsafat Islam,
Bandung.
Abu Hanifah, 1950, Rintisan Filsafat, Jakarta.
Al-Farabi, , 1955,Al-Madinatul
Fadilah, Dar Ma’rif, Kairo.
Sulisyanto, 2006, Pengantar
Filsafat Dakwah, Teras, Yogyakarta.
Sambas, 2009, Sembilan Pasal Pokok
Pokok Filsafat Dakwah, Sajjad Publishing Haous, Bandung.
Komentar
Posting Komentar