DASAR KEILMUAN DAKWAH DITINJAU DARI ASPEK ONTOLOGI DALAM FILSAFAT
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Ontologi merupakan salah satu cabang ilmu
filsafat yang paling kuno. Secara bahasa ontologi dibagi menjadi dua yaitu:
ontos “sesuatu yang berwujud”, da logos “ilmu atau teori” secara istilah
ontologi adalah ilmu atau teori tentang hakikat yang ada, baik yang berupa
jasmani ataupun nyata maupun rohani atau abstrak. Sedangkan kata dakwah berasal
dari bahasa arab “da’a-yad’u-da’wan” yang artinya menyeru, mengajak. Secara istilah
dakwah bisa diartikan mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengekuti
pentunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka untuk berbuat
jahat, agar mereka mendapatkan kebahagian didunia dan diakhirat. Hubungan
ontologi dalam filsafat dakwah islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang
wujud hakikat dakwah islam itu sendiri dalam mengkaji problem ontologis dakwah
yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah.
B.
Rumusan masalah
1. Apa pengertian dakwah dan ilmu dakwah?
2. Apa maksud ontologi dalam ilmu dakwah?
3. Bagaimana perseptif ontologi terhadap ilmu
dakwah?
C.
Tujuan
1. Mengetahui konsep dakwah danilmu dakwah
2. Mengetahui pengertian ontologi
3. Mengetahui hubungan ontologi dengan ilmu
dakwah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Dakwah
Secara
etimologis pengertian dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti seruan,
ajakan, panggilan. Sedangkan orang yang melakukan seruan atau ajakan tersebut
dikenal panggilan da’i artinya orang yang menyampaikan dakwah. Dakwah merupakan
suatu proses untuk menyampaikan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan
dengan sadar, dan sengaja, tidak ada paksaan dalam upaya meningkatkan ketaqwaan
dan tata nilai hidup manusia yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya.[1]
Secara umum misi dakwah adalah menyeru umat pada kebenaran untuk sampai kepada
jalan yang lurus. Jika misi ilmu dalam konteks keislaman adalah dengan teologis
yang sama sebagaimana misi dakwah.
Adapun pengertian dakwah mencakup:
1. Dakwah adalah aktivitas atau kegiatan yang
bersifat menyeru, mengajak untuk kebaikan.
2. Dakwah adalah suatu proses penyampaian ajaran
islam yang dilakukan secara sadar dan sengaja.
3. Dakwah adalah kegiatan yang direncanakan
dengan tujuan mencari kebahagian dunia dan akhirat.[2]
Menurut Prof.
Toha Yahya Oemar yang dikutip oleh wahidin dalam bukunya pengantar ilmu dakwah
menyatakan bahwa dakwah adalah upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada
jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah. Menurut Syeh Ali Makhfudz, dalam
kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan pendapat bahwa dakwah adalah
mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk atau (hidayah),
mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dan
menurut Syeh Muhammad Abduh menyatakan dakwah adalah menyeru kepada kebaikan
dan mencegah dari kemungkaran dan itu wajib untuk semua kaum muslim.[3] Dari
semua pendapat tersebut menyatakan bahwa dakwah diartikan sebagai penyiaran agama sebenarnya
mempunyai tujuan yang lurus, dakwah bukanlah dari mimbar ke mimbar dan tidak
bisa menjawab permasalahan umat secara nyata. Untuk menjawab permasalahan umat
atau masyarakat sebagai sasaran dakwah misalnya seperti masalah kemiskinan
tidak bisa hanya dilakukan dengan tabligh dari mimbar ke mimbar, tetapi perlu
ada usaha atau tindakan untuk mengangkut mereka dari kemiskinan. Usaha itu bisa
berupa bantuan sosial, pendidikan ketrampilan dan sebagainya, kegiatan tersebut
telah dilakukan oleh agama lain yang dalam cara berdakwah lebih persuasif dan
mendekati kebutuhan nyata dari masyarakat dalam arti sosial psikologis ataupun
sosial ekonomi bagi mereka yang miskin. Pengembangan dakwah tidak bisa
dilakukan oleh perorangan tetapi dengan kerja kolektif, sekarang dakwah bukan
lagi disebuah masjid, melainkan sudah beranjak kesebuah masalah misalnya
kemiskinan atau bencana alam yang mungkin saja terjadi di berbagai daerah. Perintah
untuk melaksanakn dakwah dijelaskan dalam beberapa ayat al- qur’an dan hadis
nabi,antaranya disebutkan dalam Q.S.Ali imron (3): 104
ولتكم منكم يدعون إالخير ويأمرون با لمعروف وينهون عن
المنكر
Artinya: Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kapada yang mungkar.
Berdasarkan ayat ini para ulam sepakat menetepkan bahwa dakwah hukumnya
wajib, sesuai dengan kaedah ushul fiqih
الاصل فى الامر للوجوب
Pada dasarnya amr itu memfaedahkan yang wajib.[4]
Dan dalam hadis nabi diterangkan مُرْوا بِا لمَعْرُوْفَ وَانْهَوا عن
المُنْكَرْ قبْلَ أَنْ تَدْعُوْا فَلاَ يُسْتَجَبَابُ لَكُمْ artinya
: hendaklah kamu menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah mungkar sebelum kamu
berdoa, (sebab jika tidak kamu laksanakan hal itu) niscaya doa kamu sekalian
tidak akan diterima.(HR. Ibnu Majah).
Dalam ini dakwah merupakan suatu kewajiban yang tidak boleh di tawar
lagi kewajibannya, sebagaian ulama juga ada yang berpendapat bahwa dakwah itu
fardu kifayah, ulama tersebut berpendapat demikian karena melihat bahwa yang
wajib dakwah adalah orang-orang yang memiliki keahliah dalam bidang agama dan
menghayati serta mengamalkannya.
Berbagai ahli
ilmu berpendapat seperti: Werdi Bachtiar menjelaskan bahwa ilmu dakwah terdiri
dari sejumlah pengetahuan tentang proses upaya mengajak manusia ke jalan Allah
yang rohmatal lil alamin.
Ilmu dakwah
adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara berdakwah atau
mensosialisasikan ajaran islam kepada masyarakat dengan berbagai pendekatan
agar ajaran islam mudah diterima. Ilmu dakwah juga meliputi tentang, materi
dakwah, subjek dakwah, objek dakwah, metode dakwah, dan tujuan dakwah.[5]
Dasar ilmu dakwah berfungsi memberikan dasar-dasar teori dan metode cara
berdakwah.
Fungsi ilmu
dakwah terapan adalah memberikan kemampuan teknis keahlian profesi dakwah
islam. Cabang ilmu dakwah dasar meliputi cabang-cabang ilmu dakwah yang
memberikan prinsip-prinsip, paradigma, kerangka teori, sistem dan metode
dakwah, filsafat dakwah, sistem dakwah, metode penelitian dakwah, manajemen
dakwah, psikologi dakwah, sosiologi dakwah, sejarah dakwah, dan sebagainya.
Ilmu dakwah memiliki beberapa pemikiran tentang dakwah yang ada dengan
pengayaan kajian dakwah dengan pendekatan filsafat, yang meliputi berbagai
aspek antaranya: pertama, aspek ontologi dakwah islam. Kedua, aspek
epistemologi dakwah islam, yang mendiskusikan wilayah, realitas dan fenomena
yang dikaji dalam ilmu dakwah. Ketiga, aspek aksiologi ilmu dakwah yang
mengkaji sumber dakwah, metode penalaran dalam merekontruksi teori dakwah dan
struktur keilmuan dakwah.[6]
B. Ontologi
Dalam Ilmu Dakwah
Kata ontologi berasal dari bahasa yunani: on,
ontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu tentang). Dengan demikian,
ontologi pengetahuan tentang yang ada. Dalam studi filsafat ontologi sering
dikaitkan dengan metafisika. Menurut pendapat Antony flew, dikatakan bahwa
ontologi merupakan cabang dari ilmu filsafat yang menaruh perhatin pada studi tentang
hakikat yang ada. Ontologi muncul pada pertengahan abad ke-17. Istilah ini
dikenal oleh Goclenius pada 1636, digunakan oleh Clauberg tahun 1647,
Micraelius tahun 1653, dan Du Hamel tahun 1663. Istilah ontologi dalam
pengertian adalah pengetahuan yang ada telah baku diterima oleh Gottfried
Wilhelm Leibnz, (1646-1716).[7]
Orang yang menyamakan ontologi dengan filsafat
adalah pertema Aristoteles, yang kemudian dikenal metafisika. Meski harus
diakaui ontologi hanya merupakan bagian dari metafisika, yakni teori mengenai
yang ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya, dan apa yang secara
hakiki termasuk ada. Dari pemahaman tentang onologi itu kita dapat membedakan hakiki
pengetahuan ynag bernama ilmu dibidang dengan jenis pengetahuan yang lain
seperti Filsafat dan agama. Pada zaman yunani kuno memang belum dapat dibedakan
secara tegas antara pengetahuan rasional baik filsafat maupun ilmu. Secara
terminologi ontologi yakni: pertama, studi tentang ciri-ciri esensial yang ada
dalam dirinya sendiri yang berada dari studi tentang hal-hal yang ada secara
khusus. Kedua, cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitis dalam
arti luas mungkin, yang menggunakan kategori-kategori seperti: ada/menjadi, aktualitas/poensialitas,
nyata/tampak, perubahan, waktu, eksitensi/noneksintensi, dan esensi. Ketiga,
cabang filsafat mencoba a) melukiskan hakikat ada yang terakhir ( yang satu
yang absolut, bentuk abadi sempurna), b) menunjukan bahwa segala hal tergantuk
pada eksistensinya, c) menghubungkan pikiran dan tindakan manusia yang bersifat
individual dan hidup dalam sejarah dengan realitas tertentu.[8]
Jadi sebenarnya, ontologi merupakan sebuah
studi yang mempelajari hakikat keberadaaan sesuatu, dari yang terbentuk konkret
sampai yang berbentuk abstrak, tentang sesuatu yang tampak sampai sesuatu yang
tidak tampak, mengenai eksintensi dunia nyata maupun eksistensi dunia dan kasat
mata, eksistensi gaib yang ditekankan oleh Sidi Gasalba. Bagi Sidi Gazalba,
mempersoalkan sifat dan keadaan terkhir daripada kenyataan. Karena itu ia
disebut ilmu hakikat, hakikat yang bergatung pada pengetahuan. Ilmu alam
atau fisika memikirkan yang nyata, tanpa mempersoalkan hakikatnya. Ilmu hakikat
justru mempersoalkan hakikat itu dengan memisahkan secara tajam subjek dan
objek. Dalam agama, ontologi memikirkan tentang tuhan.[9]
Hakikat ontologi sebenarnya adalah apa yang ada pertama (what is being),
dimana yang ada dan apa kebenaran itu.
C. Perseptif Ontologi Terhadap Ilmu Dakwah
Filsafat dakwah menurut sistematika filsafat
yang dibuat oleh The Liang Gie termasuk dalam filsafat khusus, yaitu filsafat
agama. Namun, masalah ontologi dari filsafat dakwah berkaitan dengan pendangan
tentang hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah di sekitar persoalan dakwah. Seiring
dengan pertembuhan ilmu dakwah dan tuntunan masyarakat di era global yang membutuhkan
pemahaman islam secara rasional dan fungsional, maka kajian dakwah yang
bersifat filosof amat diperlukan.[10]
Dakwah perlu dikolaborasikan dari sisi ontologi, epistimologi, dan aksiologi.
Dalam dakwah filsafat berperan untuk membantu da’i dalam mengatur alur pikiran
yang sesuai dengan kemampuan mad’u. Bahkan, filsafat berperan dalam membantu
para da’i untuk memahami materi dakwah yang lebih mendalam dan komprensif,
begitu juga ketika da’i dihadapkan dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat, seorang da’i dituntut memiliki kemampuan dalam mengatasi perbagai gejolak
permasalahan yang ada dalam masyarakat. Semua kemampuan tersebut bisa
didapatkan apabila da’i diberikan pengetahuan tentang filsafat.[11]
Dalam mengungkap ontologi dakwah, terdapat
tiga hal mendasar yang dapat membuktikan bahwa memiliki subyek, obyek, masalah,
serta tujuan yang jelas. Tiga hal itu diuraikan sebagai berikut: pertama,
manusia sebagai prilaku da’i dan menerima dakwah mad’u. Untuk mengungkap
manusia sebagai pelaku dan penerima dakwah, maka perlu mengungkap tentang
siapakah itu manusia? Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang terdiri dari
jasad material dan memiliki jiwa yang bersifat ruhaniyah (inilah yang
membedakan manusia dengan binatang), sehingga manusia mampu untuk berfikir,
merasa, berbuat, dan dinamis.[12]
Kedua unsur berfungsi mengembagkan dan mengkontrol naluri-naluri atau dalam
tubuh manusia ada fikir dan dzikir, serta rasio dan rosul. Sebenarnya untuk
menjawab pertanyaan tentang manusia pada dataran jasadiyah, hal ini mampu
dijawab oleh ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab pada
tingkatan ruhaniyah, karena pada tingkat ini merupakan rahasia Allah SWT semata
sebagaimana dalam surat al-Isra’ ayat 85
وَ يَسْاَ لُوُ نَكَ
عَنِ الرُّ حُ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوْتِيْتُمْ مِنْ العْامِ
إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya
kepadamu tentang roh, katakan lah “roh itu termasuk urusan tuhanku dan tidaklah
kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. Selain itu di dalam surat at-tiin
لَقَدْ خَلَقْنَا
الاءِنْسَا نَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhmya kami telah diciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”.
Manusia memiliki keterbatasan, sehingga pada
tingkat tertentu tidak mampu menyelesaiakan persoalan yang dihadapi. Kemudian
manusia memerlukan jawaban dari luar dirinya yaitu ajaran agama, agama islam
berisi pesan atau materi yang dapat di sampaikan. Dalam tubuh manusia terdapat
dua komponen yang memiliki kemampuan tarik menarik untuk menunjukan
eksistensinya yaitu kekuatan sifat yang rendah (jasad yang terbuat dari tanah
sebagai bahan baku penciptaan manusia) dengan unsur kekuatan yang suci. Ajaran agama
akan masuk ke hati manusia melalui jalur dakwah. Posisg baik, berkumpul menjadi
masyarakat yang khairul ummah. Dengan demikian dakwah islam merupakan
jembatan seorang manusia untuk memperoleh hidayah dari Allah. Dakwah dalam hal
ini adalah proses mengajak, menyeru,dan mengajak umat agar kembali, tetap
berada, atau justru meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.[13]
Dalam teori dakwah diperlukan filsafat sebagai
alat untuk menganalisis dan mengkritis berbagai persoalan, dengan demikian
manfaat filsafat amat besar dalam meningkatkan aktifitas dakwah dan
pengembanagn keilmuan dakwah. Menurut pandangan suisyanta yang dikutip dari
bukunya pengantar filsafat dakwah, mengatakan bahwa filsafat dakwah merupakan
cabang dari filsafat islam yang membicarakan khusus tentang dakwah, filsafat
dakwah adalah cabang ilmu dakwah yang membahas tentang ontologi, apistimologi,
dan aksiologi dakwah dalam sistem islam dan kehidupan manusia.
Ilmu dakwah dilihat dari perspektif ontologi
yaitu sesuatu yang wujud atau nyata atau mengedepankan akal (rasional). Allah
SWT memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akalnya, kemampuan manusia
menurut Ibnu Khaldun, memiliki tiga tingkatan dan jika manusia dapat menggunakanketiga
tingkatan akal tersebut akan membawa manusia kepada suatu realita sebagai
manusia seutuhnya (al-haqiqah al-insaniyah) atau sebagai manusia
sempurna.[14]
Tingkatan yang pertama adalah kemampuan akal untuk membedakan sesuatu atau
benda yang disebut dengan al-aql al-tamyizi. Contohnya manusia dengan akalnya
dapat membedakan bentuk benda yang lingkaran dengan yang persegi panjang.
Tingkatan yang kedua adalah kemampuan manusia dalam mengapresikan berbagai
pengalaman yang bersifat empiris sehingga manusia mampu dapat memanfaatkannya.
Contohnya manusia mengenal dan menemukan biji besi didunia, kemudian dengan
biji besi manusia mampu membuat baja, kendaraan, pesawat, dan
sebagainya.tingkatan yang ketiga manusia memiliki kemampuan dalam merumuskan
teori baik yang bersumber dari pengalaman empiris melalui inderanya atau
bersumber dari akal.
Manusia merupakan makhluk tuhan yang sempurna,
berbeda dengan binatang, tumbuhan, dan malaikat. Keberadaan manusia di bumi ini
menepati posisi pertama sebagai kholifah, maka dari itu manusia diberikan tugas
untuk memakmurkan alam semesta ini, manusia bisa berbuat apa saja didunia ini
baik berupa kebaikan maupun kejelekan. Karena pada diri manusia di bekali
dengan akal pikiran yang difungsikan untuk menuntut dan mengembangkan ilmu
pengetahuan. Karena itu manusia diwajibkan untuk mencari ilmu, dengan ilmu manusia
dapat mengalahkan makhluk tuhan yang lain dan malaikat sujud kepadanya, selain
ilmu seorang manusia harus dibekali dengan imam, dengan imam dalam dalam
dirinya manusia dipercaya untuk memilki amanah yang diberikan kepada Allah.
Amanah yang diberikan Allah kepada manusia merupakan tugas manusia sebagai
kholifah di bumi ini.
BAB III
A.
Kesimpulan
1. Dakwah Secara etimologi berasal dari bahasa
arab yang berarti seruan, ajakan, panggilan. Sedangkan orang yang melakukan
seruan atau ajakan tersebut dikenal panggilan da’i artinya orang yang
menyampaikan dakwah. Dakwah merupakan suatu proses untuk menyampaikan suatu
usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar, dan sengaja, tidak ada
paksaan dalam upaya meningkatkan ketaqwaan dan tata nilai hidup manusia yang
sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya. Hukum berdakwah ada dua yaitu wajib
dan fardu kifayah. Ilmu dakwah adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana
cara berdakwah atau mensosialisasikan ajaran islam kepada masyarakat dengan
berbagai pendekatan agar ajaran islam mudah diterima. Ilmu dakwah juga meliputi
tentang, materi dakwah, subjek dakwah, objek dakwah, metode dakwah, dan tujuan
dakwah. Dasar ilmu dakwah berfungsi memberikan dasar-dasar teori dan metode
cara berdakwah. Fungsi ilmu dakwah terapan adalah memberikan kemampuan teknis
keahlian profesi dakwah islam.
2. Ontologi merupakan sebuah studi yang
mempelajari hakikat keberadaaan sesuatu, dari yang terbentuk konkret sampai
yang berbentuk abstrak, tentang sesuatu yang tampak sampai sesuatu yang tidak
tampak.
3. Hubungan ontologi dengan dakwah berkaitan
dengan pendangan tentang hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah di sekitar
persoalan dakwah. Seiring dengan pertembuhan ilmu dakwah dan tuntunan
masyarakat di era global yang membutuhkan pemahaman islam secara rasional dan
fungsional.
B. Saran
Sebagai penyusun, penulis merasa masih ada kekurangan dalam pembuatan
makalah ini, oleh karena itu, penulis mohon kritik dan saran dari pembaca. Agar
penulis dapat pemperbaiki makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Biyanto, Filsafat Ilmu dan Keislaman,(Yogyakarta:
Pustaka, 2015)
Muhammad, Rosyid Ridla, Pengantar Ilmu
Dakwah,(Yogyakarta: Samudra,2017)
Basit Abdul, Filsafat Dakwah, (Jakarta:PT
Raja Pustaka,2013)
KhallafAbdul, Wahab , Kaidah-Kaidah Ushul
Fiqih, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persero,2002)
Saputra, Wahidin,Pengantar Ilmu Dakwah,(Jakarta:
PT Raja Grafindo Pustaka, 2011)
Aziz Ali, Moh,ilmu dakwah, penanda
media kencana, Jakarta 2004
Suisiyanto, Pengantar Filsafat Dakwah
(Yogyakarta:Teras,2006)
Komentar
Posting Komentar