DAKWAH ISLAM PADA MASA KHALIFAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
             Nabi Muhammad SAW di samping sebagai pemimpin agama juga kepala pemerintahan.Setelah wafat, fungsi sebagai Rasulullah, mengemban risalah kenabian tidak dapat disandangkan kepada manusia manapun di dunia ini.Karena, penetapan fungsi tersebut adalah mutlak dari Allah. Selanjutnya pemerintahan islam dipimpin oleh empat orang sahabat terdekatnya selama 30 tahun. Yaitu Abu Bakar Asy-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman binAffan, Ali binAbi Thalib.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Dakwah serta prestasi yang di raih pada masa Khulafaur Rasyidin?
2.      Apa saja organisasi yang mendukung dakwah di masa Khalifaur Rasyidin?
3.      Bagaimana berakhirnya dakwah pada masa khalifah?

C.     Tujuan
1)      Agar mengetahui prestasi dakwah pada masa khulafaur Rasyidin.
2)      Untuk mengetahui  lembaga apa saja yang terlibat dalam pengembangan dakwah.
3)      Agar tau bagaimana berakhirnya dakwah pada masa kholifah.









BAB II
PEMBAHASAN
A)    Dakwah Pada Masa Khulafaurrasyidin
1.      Abu Bakar Asy-Shiddiq (632-634)
            Abu Bakar adalah khalifah yang dipilih sebagai kandidat dari kalangan muhajirin. Dan ia akhirnya dipilih melalui musyawarah dan seluruh kaum muslim membaiatnya. Ia sangat berpengaruh ketika mengarahkan orang-orang Madinah untuk menerima Abu Bakar sebagai khalifah. Umar telah muncul sebagai orang yang kemampuannya telah terbukti dan hamper dapat dipastikan bahwa dia pemimpin yang terpilih.[1]Sebagai pemimpin umat, ia disebut Khalifah Allah. System pemerintahannya bersifat sentral yang berasaskan Al-Qur’an dan Sunnah.Meskipun hanya 2 tahun banyak prestasi yang ditorehkan pada masanya. Misalnya:
1)      Menjaga keutuhan umat dengan memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat dan suku-suku Arab yang tidak tunduk kepada islam bahkan menganggap islam hanya di masa Nabi  yang terangkum dalam perang Riddah. Di samping itu, Abu Bakar juga menghadapi pertentangan dari Musailamah Al- Kazab (nabi palsu) dan dibasmi oleh Khalid bin Walid dalam perang Yamamah.
2)      Ekspansi Islam
Abu Bakar mengirimkan Khalid bin Walid dan Iyyad Ghunam dengan beberapa pasukan keluar madinah, dan merekapun akhirnya menguasai wilayah Al-Hirrah. Kemudian ia pun memilih 4 panglima yaitu Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, Amr Ibnul ‘Ash, Yazid ibn Abu Sufyan, dan Syurahbil untuk dikirim ke Syam.
3)      Mengumpulkan Al-Qur’an[2]
4)      Pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an
Salah satu usaha untuk menyelamatkan dakwah islamiyah dari penyelewenganyaitu dengan pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an. Pembukuan dimulai dari masa Khalifah Abu Bakar asy-Shiddiq dengan menunjuk Zaid bin Tsabt sebagai ketua panitia pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an. Setelah jadi satu mushaf, maka seluruh benda-benda yang selama ini digunakan untuk penulisan disuruh untuk dibakar.Sedangkan, Al-Qur’an yang sudah dibukukan kemudian disimpan Abu Bakar setelah beliau wafat kemudian disimpan Umar dan setelah beliau wafat disimpan oleh Hafsah. Setelah terjadi pertentangan dan perselisihan dalam membaca Al-Qur’an maka khalifah usman menyuruh salin kembali menjadi enam naskah yang ke enam-enamnya sama kuatnya yang harus menjadi pegangan. Mushaf tersebut disimpan oleh Usman dan dinamakan  Al-Imam. Selain pembukuan Al-Qur’an pada masa ini mulai dikembangakan ilmu-ilmu diantaranya yaitu: ilmu qiraat, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu nahwu, ilmu adab.[3]

2.      Umar bin Khattab (634-644)
            Sebelum Abu Bakar meninggal, Beliau bermusyawarah dengan para sahabat untuk memilih penggantinya.Kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat islam. Kebijakan Abu Bakarpun diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Walaupun ia juga termasuk dari kerabat nabi, tetapi pengangkatan Khalifah ini tidak ada hubungannya dengan kekerabatan.Ia pun memimpin selama 10 tahun. Di tanganilah ekspansi besar-besaran dimulai, diantaranya:
·         Syiria dan Palestina
Tahun 653 M pecahlah pertempuran Yarmuk antar kaum Muslimin dengan tentara Romawi.Setahun kemudian, pasukan Muslim berhasil merebut Damaskus dan menguasai seluruh Syiria dan Palestina.
·         Irak, Basrah, Kufah, Khurasan, dan Mesir
Di bawah pimpinan panglima Sa’ad bin Abi Waqash, Irak, Basrah, dan Kufah ditaklukkan (637) .sementaraAmru bin Ash berhasil menaklukkan Mesir (641 M). setelah mendapatkan perlawanan dari tentara Romawi dan Raja Muqaiqis. Di pihak lain pasukan muslimin dibawah Ahnaf bin Qais terus melebarkan ekspansi timur Persia (khurasan) dan terus mendesak kaisar terakhir Persia, Yazdgird III.Ia pun terbunuh dan berakhirlah kekuasaan Persia.
Keberhasilan umar dalam ekspansinya menuntut ia harus merubah system administrasi pemerintahan. Ia pun membagi wilayah islam menjadi delapan propinsi.: Makkah, Madinah, Basrah , Syiria, Kufah, Khurasan, Palestina dan Mesir. Angkatan militerpun ditingkatkan.Mulai menggaji gubernur dan bawahan, mendirikan Bait Mal serta menempa mata uang.Dan umarpun mendirikan pengadilan.
Kebijakan-kebijakan Umar:
a)      Membentuk majlis permusyawaratan
b)      Menyusun administrasi Negara
c)      Berijtihad: kasus tanah rampasan perang, Al-Mu’allaf Qulubuhum, masalah hukuman potong tangan.[4]

3.      Usman bin Affan (644-655)
            Usman lahir pada tahun 576M.di kalangan masyarakat saat itu, usman dikenal sebagai bangsawan Makkah . salah seorang keluarga dari pimpinan  Umayyah dan juga sebagai saudagar yang kaya dan terpandang. Ia adalah salah satu sahabat yang rela mengorbankan sebagian hartanya untuk kepentingan-kepentingan umat islam.seperti saat perang tabuk melawan bizantium beliau menanggung sepertiga pembiayaan dana perang.[5]
Keberhasilan Usman:
v  Militer
Atas usulan Muawiyah, untuk pertama kalinya Islam memiliki armada laut. Armada laut inipun akan menguasai laut tengah dan di sepanjang pantai Romawi.
v  Ekspansi
Pada masa Usman, ekspansi islam berhasil melebar ke daerah Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, Transoxania (ma waraa an-nahr) dan sisa-sisa kekuasaan Persia.
v  Pembangunan
Usman membangun jalan, jembatan, memperluas masjid Nabawi. Untuk mencegah banjir ia pun membangun bendungan dan mengatur distribusi air ke kota.
4.      Ali bin Abi Thalib (655-660)
            Suasana politik pada masa Ali sangat panas.Seperti adanya perpecahan yang tak bisa dihindari hingga berbuah peperangan antar kaum muslimin. Diantaranya: perang jamal (Ali dengan Zubair, Thalhah dan Aisyah), perang siffin (Ali dan Muawiyyah), dan pemberontakan kaum Khawarij. Perseteruan antara Ali dan Muawiyah dalam perang siffin berakhir dengan perdamaian yaitu “Tahkim Daumatul Jadal”.Dalam tahkim tersebut Ali berkenan menanggalkan kekuasaannya. Inti dari garis politik khalifah Ali adalah hendak mengembalikan umat islam pada kehidupan umat islam seperti pada zaman Rasulullah, dimana orang bekerja dan berjihad semata-mata karena Allah.
Kebijakan dakwah pada masa Ali:
1.      Kader-kader terbaik rasul telah memimpin pemerintahan islam selama 30 tahun.
2.      Mengembangkan dari system pemerintahan dan kekuasaan.
3.      Futuhat islamiyah yang dilakukan oleh para sahabat selalu diikuti oleh perluasan pemikiran islam
4.      Menjaga keutuhan Al-Qur’an dan mengumpulkqnnya dalam bentuk mushaf.
5.      Mengajarkan ilmu dan memerangi kebodohan.[6]

B)    Organisasi Pendukung Dakwah
             Organisasi Negara yang mendukung dakwah islamiyah telah dibina lebih sempurna, telah dijadikan sebagai suatu “nidham” yang mempunyai alat-alat perlengkapan dan lembaga-lembaga yang telah cukup saat itu. Pada masa Khulaur Rasyidin terdapat beberapa organisasi dan lembaga, diantaranya:
1.      Lembaga politik
Adanya Khalifah, Wizarah, dan Kitabah (sekretaris Negara).
2.      Lembaga tata usaha Negara
Adanya Idaratul Aqalim (pengelolaan pemerintah daerah) dan pengurusan dewan –dewan seperti: Kharaj (kantor urusan keuangan), Dewan Rasail (kantor urusan arsip), Diwanul Barid (kantor urusan pos), dll.
3.      Lembaga keuangan Negara
Termasuk di dalamnya adalah angakatan laut, angkatan darat serta pemua perlengkapannya.
4.      Lembaga kehakiman Negara
Di dalamnya terdapat urusan mengenai Qadha (pengadilan negeri), madhalim (pengadilan banding) dan hisbahyaitu pengadilan yang bertugas mengurus perkara- perkara yang bersifat lurus dan perkara-perkara yang memerlukan pengurusan Negara.[7]

C)    Berakhirnya Khalifah Islamiyah
       Berakhirnya masa pemerintahan pada masa kholifah islamiyah yang sesungguhnya merupakan sebuahbkeemimpinnan demokratis  yang tata cara dan terutama system peralihan kekuasaannya sangat islami. Pemerintajhan ini berlangsung selama tiga puluh tahun sebagaimana dipreddiksi nabi muuhammad saw. Begitu banyak yang dapat dikontribusikan kepada pemerintahan sesudahnya dalam bentuk produk;produk peradapan dan kebudayaan islam. Adapun periode sejarah islam berikutnya bersifata imlikasi saja, karena terkadang tidak mewarisi islam yang sesungguhnya.
       Namun demikian, berakhirnya periode al-Khulafa al-Rasyidin tersebut memberikan pesan tak sedap dalam memori sejarah peradapan manusia,seakan akan telah terjadi perebuatan kekuasan dari tangan kholifah ali bin abi thalib ke tanan muawiyah yang selama  dua puluh tahun menjabat sebagai gubernur syam. Tiga pergoalakan yang mengakhiri ke kholifahan kholifah ali bin abi thalib adala: pertama, perang jamal. Bermula dari surat yang dikirim ali kepada muawiyah untuk pembaiatannya yang tidak di tanggapi, karena muawiyah menuntut darah utsman, dan akan menyerang ali, thalhah, zubair dan aisyah menuju bashrah dengan pasukannya untuk menyerang ali dengan alas an yang sama. Rencana ini diketahui ali  melalui amir basrah, ustman bin hanaif. pasukan ali yang rencana ke syam berbalik ke basrah. Sebelumnya ali mengajak berunding, tapi dikacaukan oleh kelompok sabaiyah. Pertempuran terjadi.”[8] Ali 29 ribu tentara, aisyah ditawan dan di kirimkan ke madinah bersama saudaranya. Kholifah memantapakan kekuasaannya di bashrah, lalu ke kufah yang sejak itu menjadi ibukotanya.[9]
       Kedua, perang siffin, berawal dari utusan ali, jari bin Abdullah al;bajali kepada muawiyah untuk membaiat terhadap, tapi ditolak. Muawiyah balik mengancam ali dan meminta kepadanya untuk melepaskan jabatan, maka terjadilah perang siffin. Seketika terpojok, pasukan muawiyah mengangkat mussaf dia atas pedang sebagai isyarat damai. Ali akhirnya menghentikan peperangan karna sikap lunak pasukannya.[10]
       Walaupun demikian, ada pihak yang tidak setuju dengan sikap khalifah keempat tersebut. Maka mereka kemudian memutuskan sikap berada di luar ali karana tidak mengakuai ke-absahhan tahkim tersebut. Kelompok muawiyah dan juga kelompok ali sama sama memusuhi. Selanjutnya dalam sejarah teologi islam, sikap tersebut berkembang menjadi aliran khowarij. Bermunculan kemudian aliran teologi lainnnya adalah murjiah, asyaryah, mu’tazilah dan syi’ah. Begitu beragam sub-sub sekte yang menyempal dari kelima aliran teoligi tersebut, mulai dari yang modrat sampai yang sampai samangat radikal dalam memahami agama.
       Dan ketiga, peristiwa tahkim, adalah tanggapan kelompok ali terhadap tawaran berdamai dari kelompok muawiyah dia akhir perang siffin untuk sebuah forum,di sebut tahkim (arbitrase). Utusan adalah abu musa al-asy’ari. Sedangkan muawiyah adalah amr bin ash. Kelompok ali kalah dalam forum tersebut, karna sikap abu musa yang santun (tawaduk). Dan kelicikan amr bin ash yang di manfaatkan oleh muawiyah yang menang menginginkan jabatan kholifah.[11] Setelah itu khalifah menyiapkan serbuan ke Syria dan menghadapi kelompok khawarij yang telah membelot di mahrawan pada tahun 685 M. Situasi ini diamanfaatkan muawiyah untuk menyerbu mesir di bawah pimpinan amr bin ash. Pengukuhan muawiyah atas Syria dan mesir bertambah perundingan damai antar khalifah ali dan muawiyah, apalagi ali di sibukkan oleh kekacuan didalam negeri maka jatuhlah ali.
       Dengan demikian berakhirlah kekhalifahan Ali Ban Abi Thalib sekaligus periode Al-Khalafaur Al-Rasydin, kemudian berpindah tangan ke muawiyah bin shofyan, yaitu bermulanya kekuasaan bani umayah dalam sejarah peradapan islam. Dan kelompok ali terpecah menjadi  dua kelompok syiah dan khawarij. Dengan wafatnya Ali Bin Abi Thalib merupakan kerugian besar bagi umat islam; republik dan zaman edial islam berakhir. Muawiyah kemudian mengubah khalifah menjadi kerajaan, dan menetapkan  pemerintahan dinasti-dinasti dalam islam. Madinah, kaum anshor dan banga arab dari semenanjung Arab kehilangan pengaruh mereka dalam kekhalifahan, Dimulailah supremasi orang-orang Arab Damaskus dan Syria dalam sebuah imperium keberadaannya bertolak belakang dengan system islam yang demokratis sebagaimana di contohkan al-kholafaur al-Rasyidin sebelumnya.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
       Setelah wafatnya Rasulullah SAW, kepemimpinan umat dipegang oleh para sahabat penggantinya yang dikenal dengan Khulafaur Rasyiddin. Pemimpin islam pasca Rasul yaitu: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka dipilih melalui beberapa cara yang berbeda. Karena Rasulullah SAW tidak pernah menunjuk siapa yang akan menggantikannya. Adapun ciri umum system pemilihan dan memutuskan suatu perkara adalah melalui musyawarah.
       Diantara dakwah yang dilakukan Khulafaur Rasyiddin yaitu: memerangi nabi palsu, memerangi pembangkang zakat, pengumpulan serta pembukuan Al-Qur’an, dan perluasan wilayah islam.

B.     Saran
Dengan selesainya makalah ini, kami berharap agar pembaca dapat mengambil sedikit hikmah dari kandungan yang ada didalamnya. Setiap karya pasti indah, namun disetiap keindahan itu belum tentu menjadi yang terbaik. Maka penulis mohon maaf bila terdapat kekurangan dalam penulisan ataupun kandung pokok bahasan. Kritik dan saran akan kami terima, guna untuk memperbaiki makalah selanjutnya.


[1]Badri Yatim.2000.sejarah peradaban islam (Jakarta: Raja Grafindo persada) hlm. 37.
[2]Mubasyaroh. 2010. Sejarah Dakwah, (Kudus: Nora Media Enterprise), hlm.51-52.
[3]Mubasyaroh. 2010. Sejarah Dakwah, (Kudus: Nora Media Enterprise), hlm.51-52.
[4]Faizatun Alfi Hasanah. 2015. Manajemen dakwah melalui pengelolaan zakat pada masa Umar bin Khattab,  (Semarang: Skripsi), Hlm. 50-54
[5]Depag.RI. Ensiklopedi Islam, hlm.141
[6]Jansen Rambe. 2017. Problematika dakwah pada masa ali bin abi thalib, (Medan: Skripsi UIN UIN sumatera utara), hlm. 7-8
[7]Mubasyaroh. 2010. Sejarah Dakwah, (Kudus: Nora Media Enterprise), hlm.51-52.
[8] Butsman Edyar, Op,Cit,. hlm.45.
[9] Mahmudunnaser, Op, Cit,. hlm 167.
[10] Ibid,.hlm. 169.
[11] Mahmudunnaser,Op,Cit,hlm. 169.

Komentar

Postingan Populer