DAKWAH BIL HIKMAH


BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Metode dakwah dapat di artikan sebagai jalan atau cara yang digunakan oleh da’i dalam menyampaikan dakwahnya kepada mad’u. penggunaan metode yang benar merupakan unsur yang penting dalam menunjang proses berhasilnya suatu kegiatan dakwah. Suatu materi dakwah yang cukup baik, ketika disajikan tidak didukung oleh metode yang tepat tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
Kaitannya dengan dakwah dalam komunikasi metode dakwah lebih dikenal sebagai approach, yaitu cara-cara yang dilakukan oleh seorang da’i atau komunikator untuk mencapai suatu tujuan tertentu atas dasar hikmah dan kasih sayang. Metode dakwah adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang cara atau jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan dakwah.
Cukup banyak metode yang telah dikemukakan dan dipraktikkan oleh para da’i dalam menyampaikan dakwah, seperti ceramah, diskusi, bimbingan dan penyuluhan nasihat dan sebagainya.Semuanya dapat diterapkan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.Tetapi harus digaris bawahi bahwa metode yang baik sekalipun tidak menjamin hasil yang baik secara otomatis, karena metode bukanlah satu-satunya kunci kesuksesan.Tetapi, keberhasilan dakwah ditunjang dengan seperangkat syarat, baik dari pribadi da’i, materi yang dikemukakan, objek dakwah ataupun lainnya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang di maksud dengan metode dakwah dengan hikmah?
2.      Bagaimana cara menyampaikan dakwah dengan hikmah?
3.      Bagaimana strategi dakwah untuk mendekati para mad’u?

C.     TUJUAN MASALAH
1.      Untuk mengetahui maksud metode dakwah dengan hikmah
2.      Untuk mengetahui cara menyampaikan dakwah dengan hikmah
3.      Untuk mengetahui strategi dakwah untuk mendekati para mad’u



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metode Dakwah dengan Hikmah

            Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan,cara), metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa, metode berasal dari bahasa jerman methodica artinya ajaran tentang metode.Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa Arab di sebut thariq.Metode dakwah adalah jalan atau cara yang di pakai juru dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah.
Pengertian lain oleh M. Munir dalam bukunya Metode Dakwah yang menyatakan bahwa, metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang di lakukan oleh seorang da’i kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.[1]Wahyu Ilaihi dalam bukunya Komunikasi Dakwah mendefiniskan metode dakwah adalah cara-cara yang dipergunakan da’i untuk menyampaikan pesan dakwah untuk mencapai kegiatan dakwah.
            Dengan demikian dari beberapa definisi diatas dapat dipahami bahwa, singkatnya metode dakwah itu sebagai cara untuk menunjang keberhasilan dakwah seluruh umat manusia demi tercapainya kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.
            Dakwah secara etimologi (bahasa, lughah) berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan, yang berarti mengajak, menyeru, memanggil, dan mengundang.Dalam Qur’an kata dakwah bisa berarti menyeru kepada kebaikan maupun keburukan. Akan tetapi dakwah sebagai suatu konsepsi islam sepenuhnya mengandung arti menyeru atau mengajak kepada kebaikan sesuai dengan ajaran dan nilia-nilai ajaran islam. Jadi, seruan atau ajakan kepada kejahatan tidak termasuk dalam konsep dalam dakwah islam.[2]
            Sedangkan pengertian kata hikmah dalam kamus bahasa dan kitab tafsir diartikan al-adl (keadilan), al-hilm (kesabaran dan ketabahan), al-nubuwwah (kenabian), al-ilmu (ilmu), al-haq (kebenaran). Dalam kitab kitab tafsir al hikmah di sinonimkan dengan hujjah (argumentasi, wahyu allah yang diturunkan kepadamu).
            Sifat al-hikmah merupakan perpaduan antara unsur-unsur al-kibrah (pengetauan), al-miran (latihan), dan al-tajribah(pengalaman), hal ini menunjukkan bahwa orang yang dibekali dengan pengetahuan, latihan dan pengalaman sebagai orang yang bijaksana. Sebab dengan pengalaman, ilmu atau keahlian dan latihan seseorang dapat terbantu untuk mengeluarkan pendapat yang benar dan memfokuskan langkah-langkah dan perbuatannya.
            Dari pemaknaan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dakwah bil-hikmah adalah ajakan atau seruan kepada jalan Allah dengan pertimbangan ilmu pengetahuan seperti bijaksana,adil, sabar dan penuh ketabahan.Hal ini menunjukkan bahwa metode bil-hikmah menunjukkan mengisyaratkan bahwa seorang da’i harus memiliki wawasan luas termasuk didalamnya tidak hanya paham tentang ilmu-ilmu agama tetapi juga tahu tentang ilmu-ilmu umum lainnya.Oleh karena itu al-hikmah merupakan suatu term tentang karakteristik metode dakwah.[3]
            Secara terminologis, kata hikmah diartikan secara berbeda tergantung dari perspektif tinjauannya.Para ulama fiqih mengartikan hikmah sebagai Qur’an dan pemahaman terhadapnya, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabih, muqaddam-muakhar, haram-halal dan sebagainya.Sebagian mereka juga ada yang mengartikan hikmah sebagai kesesuaian anatara perkataan dan perbuatan.
            Berdasarkan pengertian-pengertian dakwah dan hikmah diatas, baik secara etimologis maupun terminologis, maka dakwah bil-hikmah dapat diartikan sebagai kegiatan,
a.       Menyeru dan mengajak manusia untuk menerima ajaran dan nilai-nilai islam.
b.      Memberikan pengertian dan pemahaman kepada manusia tentang ajaran dan nilai-nilai islam.
c.       Mencegah manusia dari perbuatan yang munkar.
d.      Upaya merubah dan sikap perilaku manusia agar sesuai dengan tuntutan Qur’an dan sunnah Rasulnya.
e.       Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan cara yang arif, bijak, adil, teliti, cermat dan terencana.[4]
            Sayyid Quthub berpendapat bahwa dakwah dengan metode bil-hikmah akan terwujud dengan berlandaskan tiga faktor yang harus diperhatikan:
1.      Keadaan dan situasi mad’u.
2.      Tingkat atau ukuran materi dakwah yang disampaikan tidak membebani atau memberatkan mad’u.
3.      Merumuskan metode dakwah yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi mad’u.

B.     Cara Menyampaikan Dakwah dengan Hikmah

            Dalam menyampaikan dakwahnya Rasulullah Saw menggunakan berbagai metode dan cara berdakwah sesuai dengan kondisi masyarakat yang beliau hadapi. Beberapa metode yang beliau gunakan dapat di jelaskan pada bagian berikut ini:
1.      Dakwah secara sembunyi-sembunyi (sirriyyah)
      Setelah Muhammad saw mengalami pertentangan jiwa dan kecemasan yang cukup lama, akhirnya beliau sampai kepada puncak keyakinan tentang misi kerasulannya, maka dakwah beliau yang pertama-tama ialah ditunjukan lingkungan anggota keluarganya. Di antara pokok ajaran yang beliau sampaikan kepada mereka, ialah masalah tauhid atau keesaanTuhan, penghapus patung-patung berhala, kewajiban manusia untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
      Kurang lebih dalam jangka waktu tiga tahun melakukan kegiatan dakwah secara sembunyi, beliau telah berhasil membuat satu kelompok kecil dalam mendukung kegiatan penyiaran agama Islam. Metode dakwah secara sembunyi-sembunyi ini beliau pilih, tidak saja karena substansi atau materi dakwah yang harus beliau lakukan sangat bertentangan dengan kepercayaan masyarakat Arab jahiliyyah, tetapi juga karena alasan keselamatan beliau, keluarganya dan para pengikutnya yang masih sedikit.
      Namun, demikian setelah melihat keberhasilan dakwah yang di lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi ini, maka beliau juga memutuskan untuk melakukan dakwah di depan umum.
2.      Dakwah secara terang-terangan (jahriyah)
      Dakwah secara terang-terangan yang di lakukan Nabi saw pertama-tama juga di lakukan di depan kerabatnya, sesuai dengan firman Allah SWT:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat dan rendahkan dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak bertangung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan’ (Q.S Al-Syu’ara: 214-216).
      Kegigihan beliau dalam menyampaikan dakwah islam yang walaupun terus diejek oleh mayoritas bangsa Quraisy menyebabkan orang-orang Quraisy mulai berupaya ubtuk menghentikan aktivitas dakwah Nabi.
      Demikianlah berbagai upaya yang di lakukan oleh kaum Quraisy untuk menghentikan aktivitas dakwah Nabi mulain dari bujukan,janji-janji, ancaman, tindakan kekerasan dan intimidasi, boikot atau embargo, bahkan pembunuhan terhadap sebagian pengikutnya bertambah banyak.
3.      Membangun dan mengoptimalkan Fungsi Masjid
      Pekerjaan pertama yang di lakukan Nabi dalam upaya untuk memperbaiki umat di Madinah adalah membangun Masjid (Masjid ini kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Nabawi).Semua umat islam ikut berpartisipasi dalam membangun masjid yang langsung dipimpin oleh Nabi. Inilah pekerjaan masal yang langsung menyatukan hati umat.
      Sebelum kedatangan Nabi, masyarakat berkelompok sudah terbiasa terkumpul di suatu tempat untuk menghindari berbagai acara baik resmi ataupun tidak.Ketika masjid selesai dibangun, mereka dipersatukan dalam satu tempat, yakni temapt pertemuan umat islam. Mereka berkumpul ditempat suci ini setiap saat untuk mendengarkan atau menerima ajaran Rasulullah SAW.
      Dengan demikian, terciptalah suasana damai.Kabilah-kabilah yang asalnya berjauhan ini menjadi dekat dan perpecahan menjadi persatuan.Di Madinah tidak ada lagi jamaah yang berkelompok dengan banyak pimpinan. Yang ada hanya ada satu kelompok dengan satu pimpinan, yakni kesatuan umat Islam dengan kepemimpinan Muhammad saw.
4.      Pendekatan terhadap pemimpin kelompok agama lain.
      Langkah Nabi selanjutnya, setelah membangun persatuan umat lewat pembangunan masjid, adalah membangun pendekatan dengan kaum Yahudi, Nabi pertama kali mengajak mereka masuk Islam melalui seorang tokoh yang cukup disegani, yakni Abdullah bin Salam.
Annas ra mengisahkan bahwa Abdullah bin Salam pernah mendengar kedatangan Nabi di Madinah, lalu ia menghampiri dan berkata kepada Muhammad tentang tiga hal yang tidak di ketahui kecuali oleh seorang Nabi.


5.      Menegakkan persaudaraan dan persatuan.
      Di samping maembangun masjid dan mengajak kaum Yahudi masuk islam, Nabi juga menyatakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam satu persaudaraan. Hal ini merupakan ciri kedewasaan dan kesempurnaan kenabian, kematangan berpolitik dan hikmah yang terpuji.
Beliau mempersaudarakan mereka atas dasar senasib dan sepenanggungan, dan bukan atas ikatan saudara (dzu al-arham) karena itu hubungan tersebut tidak sampai pada masalah pembagian waris.Jadi masalah pewarisan dikembalikan kepada kerabat, dan bukan pada hubungan persaudaraan (non kerabat).
Itulah salah satu sistem persaudaraan yang diterapkan Nabi pada saat menyebarkan dakwahnya di Madinah.
6.      Berdakwah dan mendidik .
      Nabi saw telah mengajarkan mereka tentang cara membersihkan jiwa, menganjurkan berakhlak mulia, disamping juga mendidik mereka cinta persaudaraan, kemuliaan, ibadah serta ketaatan.
7.      Memasyarakatkan gerakan infak.
      Selain membina ukhuwah islamiyah, seperti disebutkan dalam nash-nash di atas, Nabi juga menganjurkan masyarakat muslim Madinah pada saat itu agar berinfak untuk ketenangan hati dan jiwa.Nabi selalu mengajak mereka agar mampu mengatasi masalah dengan sabar dan menekankan betapa pentingnya beribadah karena didalamnya terdapat keutamaan dan pahala.
8.      Menetapkan Aturan Bersama
      Di samping membangun sistem persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, Rasulullah juga melakukan penghapusan terhadap unsur-unsur jahiliyah dan fatanisme kabilah dengan cara menghilangkan hal-hal yang di anggap negatif bagi kepentingan perjanjian kesepakatan antara Muhajirin dengan Anshar.[5]

C.     Strategi dakwah untuk mendekati para mad’u

            Menghadapi mad’u yang semakin keritis, dan tantangan dunia global  yang semakin hari semakin kopleks, serta untuk merancang strategi dakwah yang mumpuni, maka diperlukan sebuah pembenahan secara internal terhadap beberapa unsur dakwah, yaitu aktifis dakwah, materi dakwah, metode dakwah, media dakwah. Pembenahan strategi tersebut melimputi langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Peningkatan sumber daya mubaligh untuk mencapai tujuan-tujuan dakwah
      secara maksimal, maka perlu didukung oleh para juru dakwah yang handal, kehandalan yangn dimangsud meliputi kualitas yang seharusnya dimiliki oleh juru dawah masakini, yakni adanya dua kompetensi yamg dimiliki  yaitu kompentensi substansif dan kompetensi metodologis.
2.      Pelatihan pengayaan wawasan mubaligh
      Dalam kaitan ini,pengayaan wawasan mubaligh dimangsudkan untuk menunjang penguasaan substansi ajaran islam, menginggat, tugas berat seorang mubaligh yang tidak sekedar menyampaikan janji-janji Allah dan ancamannya, tetapi lebih jauh tugas mubaligh adalah sebagai mubalisator dan katalisator perubahan sosial. Dimana seorang mubaligh idealnya memiliki cir-ciri sebagai berikut:
a.       Memiliki sikap porlaris dengan mengembangkan sikap toleransi antar sesam pemeluk agama.
b.      Memiliki wacana keilmuan yang komperhensif dalam berbagai dimensi sosial kemasyarakatan.
c.       Memiliki wawasan pemikiran dan daya empiris yang luas dan kuat.
d.      Mempunyai daya kepekaan sosial dan wawasan lingkungan yang cukup.
e.       Selalu intens dengan perkembangan-perkembangan baru.
3.      Pelatihan pemanfaatan teknologi modern sebagai media dakwah
      Salah satu langkah yang juga strategis dan efektif dalam menyebarluaskan ajaran-ajaran islam adalah melalui media informasi, baik media cetakpun media elektronik. Kemajuan di bidang informasi dan telekomunikasi harus dapat di manfaatkan dengan maksimal oleh para juru dakwah, sebab dengan cara itulah maka dakwah islam dapat diterima dalam sekala yang ssngst luas dan dalam waktu yang cukup singkat.
4.      Pengembangan pendekatan dakwah fardhiyah
      Maksudnya adalah menjadikan pribadi dan keluarga sebagai sendi utama dalam aktifitas dakwah.
5.      Mempertahankan pendekatan dakwah kultural
      Dakwah struktural adalah pendekatan dakwah yang sangat strategis, hal ini, karena endekatan dakwah kultural memiliki kelebihan diantara: pertama, dakwah islam dengan pendekatan kultural ini bersifat akomodatif terhadap nilai-nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan. Kedua, menekankan pentingnya kearifan dalam memahami kebudayaan komunitas tertentu sevagai susunan dakwah, jadi dakwah kultural adalah dakwah yang bersifat button up dengan melakukan perbedaannya kehidupan beragama berdasarkan nilai-nilai spesifik yang dimiliki oleh masyarakat.
6.      Mengintensifkan pendekatan dakwah struktural
      Dakwah strukural adalah kebalikan dari dakwah kurtural, dakwah struktural bersifat top down, yakni gerakan dakwah yang menjadikan kekuasaan, birokrasi, dan kekuatan politik sebagai alat untuk memperjuangkan dan membumikan ajaran Islam.
7.      Memformat materi dakwah aktual dan relevan
      Secara umum, materi-materi dakwah mencakup persoalan akidah, bersifat umum tersebut, dan muammalah. Namun demikian, materi yang bersifat umum tesebut, tidak akan menarik manakala tidak informat sedemikian rupa.
8.      Monitoring dan evaluasi (monov) program dakwah
      Monitoring dan evaluasi dakwah ini sangat penting untuk menemukan aplikasi dakwah yang benar-benar relevan dengan kebutuhan mad’u.[6]




















BAB III

Kesimpulan
         Pada dasarnya dakwah dengan hikmah dapat diartikan luasnya pengetahuan seorang da’i dalam menyampaikan ilmu, dan pengetahuan islam secara bijaksana, Dakwah dengan hikmah merupakan proses untuk menyampaikan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar, dan sengaja, tidak ada paksaan dalam upaya meningkatkan ketaqwaan dan tata nilai hidup manusia yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya Dakwah dengan hikmah antaralain tentang bagaimana cara berdakwah atau mensosialisasikan ajaran islam kepada masyarakat dengan berbagai pendekatan agar ajaran islam mudah diterima.

Saran
         Dengan selesai makalah ini, kami berharap agar pembaca dapat mengambil sedikit hikmah dari kandungan yang ada di dalamnya. Setiap karya pasti indah, namun di setiap keindahan itu belum tentu menjadi yang terbaik. Maka penulis mohon maaf apabila terdapat kekuran dalam penulisan ataupun kandungan pokok bahasan. Kritik dan saran akan kami terima, guna untuk memperbaiki makalah selanjutnya.










DAFTAR PUSTAKA

M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana), 2009, hlm. 6-7

KH. Irfan Hielmy, Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 9-10

Nurhidayat Muh. Said, “Metode Dakwah” Dakwah Tabligh.Vol. 16, No 1.Juni 2015, hlm. 79

KH. Irfan Hielmy, Metode Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 18

KH. Irfan Hielmy, Metode Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 56-69

M. Abzar D. Strategi Dakwah Masa Kini, Lentera, Vol. XVIII, No. 1, Juni 2015, hlm 43-49




[1]M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana), 2009, hlm. 6-7
[2]KH. Irfan Hielmy, Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 9-10
[3] Nurhidayat Muh. Said, “Metode Dakwah” Dakwah Tabligh.Vol. 16, No 1.Juni 2015, hlm. 79
[4]KH. Irfan Hielmy, Metode Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 18
[5]KH. Irfan Hielmy, Metode Dakwah Bil-Hikmah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka), 2002, hlm. 56-69
[6]M. Abzar D. Strategi Dakwah Masa Kini, Lentera, Vol. XVIII, No. 1, Juni 2015, hlm 43-49

Komentar

Postingan Populer